Make your own free website on Tripod.com

PENGARUH KOMBINASI hCG DAN EKSTRAK KELENJAR HIPOFISA

IKAN MAS TERHADAP PROSES OVULASI IKAN BAUNG

( Mystus nemurus C.V )

oleh. Ceno Harimurti Adi

 

Penelitian menggunakan kombinasi hCG ( human chorionic gonadotropin ) dan ekstrak kelenjar hipofisa ikan mas ( CPE ) untuk proses ovulasi ikan baung ( Mystus nemurus C.V ) telah dilakukan di Laboratorium Pengembangbiakan Ikan Balai Budidaya Air Tawar, Sukabumi dari bulan Nopember 1998 s.d Pebruari 1999.

Tujuan penelitian adalah (1) untuk mengetahui tingkat pengaruh kombinasi hCG dan CPE terhadap kematangan oosit dan proses ovulasi ikan baung, dan (2) untuk mengetahui perkembangan telur ikan baung sebagai respon terhadap hCG dan CPE.

Percobaan pendahuluan dilaksanakan terhadap tujuh induk betina ikan baung matang gonad untuk mengetahui kondisi fisiologis dari penyebaran diameter telur, indeks gonad somatik ( IGS ), indeks hepato somatik ( IHS ), pengambilan contoh darah dan delapan induk betina ikan baung yang diambil darah dan tidak sebagai respon terhadap penentuan dosis kombinasi.

Rancangan percobaan utama adalah rancangan acak lengkap ( RAL ), dengan empat perlakuan dan tujuh ulangan secara seri waktu. Induk betina dan jantan yang digunakan telah matang gonad dengan bobot tubuh antara 0.5 - 1.0 kg / ekor. Perlakuan percobaan utama adalah ( A ) kontrol ( hCG 0 IU/kg + CPE 0 dosis /kg ) atau larutan NaCI 0.6 %, ( B ) hCG 200 IU/kg + CPE 2 dosis, ( C ) hCG 400 IU/kg + CPE 2 dosis, dan ( D ) hCG 600 IU/kg + CPE 2 dosis. Pelaksanaan percobaan pertama meliputi seleksi induk, persiapan larutan CPE dan hCG, penyuntikan hormon, penyimpanan induk, pengambilan contoh darah dan telur, persiapan tempat penetasan telur, persiapan sperma, pengurutaninduk betina, pencampuran telur dan sperma dan penetasan telur. Parameter yang diamati adalah ( a ) migrasi inti ( % inti melebur atau GVBD " germinal visicle break down " ), ( b ) waktu laten ( jam ), dan ( c ) jumlah induk sukses ovulasi. Data penunjang yang dikumpulkan adalah diameter telur, derajat pembuahan, derajat penetasan, jumlah larva normal, sisa telur ovulasi dan kualitas air ( penampung induk dan penetasan telur ).

Hasil percobaan menunjukan bahwa induk betina ikan baung yang disuntik hCG dosis 600, 400, 200 IU/kg dan masing - masing dikombinasikan dengan CPE 2 dosis menghasilkan persentase GVBD pada 10 jam dari penyuntikan pertama sebesar 90.95 + 9.25 %, 86.64 + 9.15 % dan 84.74 + 10.16 % dan waktu laten yang dicapai 426.57 + 85.08 menit, 459.57 + 89.15 menit dan 495.00 + 94.99 menit dari penyuntikan kedua. Seluruh induk perlakuan berhasil ovulasi ( 100.0 % ) serta telur dapat dibuahi oleh sperma jantan dan menghasilkan larva normal. Perakuan kontrol seluruh induknya tidak ovulasi dan persentase GVBD hanya mencapai 0.0 %.

Analisa parameter uji membuktikan bahwa kombinasi dosis penyuntikan hCG 200, 400, 600 IU/kg masing - masing dengan CPE 2 dosis tidak berbeda ( P>0.05 ) terhadap persen GVBD dan waktu laten. Respon persen GVBD meningkat secara linier sebesar Y = 81.18 + 3.12 X, r2 = 0.077 dan waktu laten makin singkat Y = 529.76 - 34.57 X, r2 = 0.104 dengan meningkatnya dosis hCG yang dikombinasikan dengan CPE 2 dosis.

 

 

 

 

PENGARUH SAAT TEBAR NILA ( Oreochromis niloticus )

TERHADAP KINERJA POLIKULTUR

UDANG GALAH ( Machrobrachium rosenbergii )

GURAME ( Osphronemus gouramy ),

TAMBAKAN ( Helostoma temincki )

oleh. Yuke Eliyani

Suatu penelitian untuk mengetahui peran perbedaan waktu tebar ikan nila terhadap kinerja polikultur udang galah, gurame, tambakan dan nila, telah dilaksanakan di Balai Budidaya Air Tawar.

Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama merupakan pendahuluan mulai bulan Mei sampai dengan Juni 1993. Tahap selanjutnya adalah penelitian pokok mulai bulan Juli sampai dengan September 1993. Sebagai tolok ukur keberhasilan polikultur adalah total produksi, konversi pakan serta pertumbuhan setiap jenis ikan budidaya.

Ikan uji yang digunakan adalah udang galah, gurame, tambakan dan nila dengan bobot masing - masing ikan berturut - turut adalah 5 gram, 13 gram, 14 gram dan 1 gram. Kepadatan gurame 5 ekor /m2, sedangkan untuk udang galah, tambakan dan nila berturut - turut 5 ekor/m2 , 3 ekor/m2 dan 10 ekor /m2 . Wadah uji yang digunakan adalah petak kolam masing - masing seluas 9 meter persegi yang mendapat pengairan secara paralel.

Rancangan percobaan yang digunakan adalah blok lengkap acak dengan tiga perlakukan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah perbedaan waktu tebar nila, yaitu 0 hari setelah tebar ( perlakuan 1 ), 15 hari setelah tebar ( perlakuan 2 ), serta 30 hari setelah tebar ( perlakuan 3 ).

Parameter yang diukur selama penelitian adalah laju pertumbuhan, konversi pakan, kelangsungan hidup. Sedangkan parameter pendukung yang diukur adalah suhu, oksigen terlarut, pH, karbondioksida bebas serta ammonia.

Dari hasil penelitian, ternya perlakuan saat tebar nila tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap laju pertumbuhan harian udang galah, gurame serta tambakan. Laju pertumbuhan harian tertinggi udang galah dihasilkan oleh perlakuan 2 ( 2.84 % ) diikuti oleh perlakuan 3 ( 2.55 % ) dan perlakuan 1 ( 2.32 % ). Sedangkan laju pertumbuhan harian gurame yang tertinggi dicapai oleh perlakuan 1 ( 1.14 % ), diikuti perlakuan 3 ( 1.07 % ) dan perlakuan 2 ( 0.89 % ). Secara berurutan, laju pertumbuhan harian tambakan naik mulai perlakuan 2 ( 0.88% ) kemudian perlakuan 3 ( 0.89 % ) dan perlakuan 1 ( 0.99 % ).

Perlakuan saat tebar nila memberikan pengaruh yang nyata terhadap total produksi serta konversi kolam. Total produksi perlakuan 1 sebesar 5768 kg/ha/siklus, perlakuan 2 dan 3 masing masing sebesar 3729 kg/ha/siklus dan 3486 kg/ha/siklus. Nilai konversi kolam masing-masing perlakuan adal;ah sebagai berikut, perlakuan 1 sebesar 0.948, perlakuan 2 dan 3 masing-masing sebesar 1.410 dan 1.593.

Tingkat kelangsungan hidup udang galah pada perlakuan 1 adalah sebesar 91.85 %, sedangkan perlakuan 2 dan 3 bernilai 94.81 % dan 95.56 %. Pada perlakuan 1, Tingkat kelangsungan hidup gurame mencapai 80.00 %, perlakuan 2 mencapai 81.67 %, sedangkan perlakuan 3 sebesar 77.50 %. Tingkat kelangsungan hidup tambakan pada perlakuan 1, 2 dan 3 masing - masing sebesar 90.00 %, 93.30 %, 91.67 %.